Jumat, 25 Maret 2016

Eksistensi Keluarga Dalam Jeratan New Media


Pernah nggak sih kalian ngerasa bete di rumah terus tiba-tiba ambil handphone terus update status deh di medsos kalian? Sadar atau tidak sadar bete itu mungkin karena kalian ada sesuatu yang tidak nyaman dirumah. Ketika mulai ngga nyaman harusnya? Ya selesaikan dengan baik-baik. Nah, menurut kalian, dengan update status bakal nyelesein masalah? Ya engga lah. Seharusnya duduk bareng terus bahas itu dengan kepala dingin.
Pada mulanya Internet adalah untuk menghubungkan komputer, salah satu kegunaan sosial utama dan konsekuensi adalah sebagai media komunikasi kompleks, tidak benar-benar antarpribadi maupun media massa. Terdapat dua pandangan mengenai adanya new media sebagai cara berinteraksi sosial dan sebagai pengungkapan ekspresi diri. Yakni dalam perspektif pesimis dan perspektif optimis. 

  • Perspektif pesimis
Perspektif ini menyatakan bahwa teknologi CMC terlalu inheren bertentangan dengan hakikat kehidupan manusia, dan terlalu terbatas teknologi untuk hubungan yang bermakna untuk membentuk (Stoll, 1995). Ada pula yang berpendapat bahwa, hubungan online mungkin menyebabkan lebih rendahnya saling ketergantungan, komitmen dan permanen (Parks dan Roberts, 1998; Rice, 1987a). Komunikasi melalui komputer dapat menumbuhkan 'eksperimen' (seperti berbohong kepada orang lain yang tidak bisa segera tahu apa sebenarnya) tentang identitas dan kualitas seseorang. Seperti suasana dapat didominasi oleh tipu daya, birahi, manipulasi dan penipuan emosional. Shapiro dan Leone merasa bahwa 'semakin banyak waktu yang kita habiskan online, semakin sedikit waktu kita harus berinteraksi langsung dengan keluarga kita, tetangga kita, dan anggota masyarakat lainnya' (1999: 118).   

  • Perspektif optimis
Perspektif optimistis semakin melihat internet sebagai media untuk interaksi sosial. Banyak studi kasus dari CMC telah menunjukkan bahwa 'sosial' adalah lem penting yang mengikat bersama-sama aspek tugas-berorientasi CMC, dan dalam beberapa kasus bahkan digantikannya mereka (Rice, 1987b). Walther (1996) menunjukkan bahwa interaksi dimediasi biasanya pribadi, terutama ketika peserta memiliki waktu dan interaksi yang dimediasi bahkan mungkin 'hyperpersonal', mengelola interaksi dan tayangan lebih dari yang mungkin tatap muka.

Tapscott (1997) membahas generasi yang tumbuh dengan internet, apa yang dia sebut N-Gen (generasi Net, yang terdiri dari mereka yang berusia 2-27 tahun 1997). Melihat TV mulai jarang, dan mampu berkomunikasi melalui e-mail, mengembangkan halaman web dan memulai bisnis. Dia menekankan bahwa pengguna muda memanfaatkan internet untuk bermain, menjelajahi dunia mereka, mencoba identitas yang berbeda, mengekspresikan diri melalui halaman web pribadi, mengembangkan hubungan dengan teman dan keluarga dan menjadi disosialisasikan. Tapscott menunjukkan bahwa komunikasi online awal akan mendorong nilai yang lebih besar untuk keterampilan kolaboratif, berdasarkan 'hubungan peer-oriented daripada hirarki dalam keluarga dan perusahaan' (1997: 212). 

Kayany dan Yelsma (2000) berpendapat bahwa rumah tangga terdiri dimensi baik sosial dan teknologi; sehingga penambahan elemen baru seperti media online mempengaruhi organisasi peran, hubungan dan fungsi. Studi mereka dari 185 orang di 84 rumah tangga menunjukkan bahwa penggunaan secara online mempengaruhi waktu yang dihabiskan sebagian besar dalam melihat TV, beberapa digunakan telepon, beberapa membaca koran, dan sejumlah kecil dalam percakapan keluarga, dengan penurunan yang lebih besar dilaporkan oleh anak-anak. Kedua fungsi informasi dan hiburan media dinilai sebagai lebih penting oleh pengguna online lebih sering

Internet dapat menjadi alat komunikasi yang besar bagi mereka yang memiliki waktu sulit bertemu teman-teman baru karena cacat fisik, penyakit atau keterampilan sosial bahkan miskin (Wallace, 1999). Orang-orang ini dapat dengan mudah menemukan orang lain seperti mereka di seluruh negeri dan di seluruh dunia, memberikan dukungan dan kesempatan untuk menurunkan kesepian atau rendah diri. 
 
Levy (1997) menunjukkan transformasi tidak hanya dari ekonomi bahan untuk ekonomi informasi, tetapi lebih jauh ke dalam 'ekonomi sosial', atau kecerdasan kolektif dimediasi melalui dunia maya, di mana interaksi, hubungan dan komunikasi menjadi pusat sumber daya dan sosial infrastruktur, dipupuk oleh teknologi informasi dan komunikasi. Inilah argumen dari modal sosial, di mana nilai tambah dan jaringan positif eksternalitas (atau barang publik) aspek pengetahuan bersama, kolaborasi dan jejaring sosial tidak dapat ditangkap, diproses dan diproduksi massal. Kenaikan ini peran interaksi sosial, sekarang terlepas fisik, budaya, bahasa dan batas-batas temporal, akan membawa tantangan besar untuk pemikiran tradisional tentang negara, bangsa dan negara.

Melihat kenyataan saat ini Indonesia, rasanya sudah tidak asing lagi dengan yang namanya internet apalgi dengan segala platform yang ditawarkan saat ini. Akses internet sendiri di Indonesia sudah mudah untuk di jumpai, sudah banyak juga yang bisa mengaksesnya, terbukti Indonesia menduduki peringkat 6 pengguna internet tertinggi dunia (kominfo.go.id).  

 
Penggunaan akses internet ini sudah melanda seluruh kalangan usia, gender bahkan kalangan pendidikan apapun. Hal terkecil yang bisa diamati adalah keluarga. Saat ini pola interaksi di dalam keluarga sudah sangat jarang. Orang terlalu sibuk dengan media yang ia miliki saat ini yakni gadgetnya masing-masing. Seolah-olah mereka berinteraksi dengan orang nyata, padahal itu adalah ilusi dari media. Keberadaan orang-orang disekitarnya justru diabaikan. Penulis pernah menjumpai salah satu kerabatnya, dan ketika penulis mengunjungi ternyata situasi keluarga tersebut sudah berbeda jika dibandingkan ketika terakhir kali berkunjung.  Ketika penulis sedang mengobrol dengan salah satu kerabat, ternyata beliau sibuk dengan kesibukannya memainkan handphonenya, entah untuk apa. Yang lebih tragis lagi adalah ketika makan, berada di meja makan memang bersama namun masing-masing anggota keluarga membawa handphone dan di saat makan sesekali melihat handphone, atau bahkan sibuk dengan gadgetnya, seolah-olah dunia sebenarnya berada di dunia. Contoh tersebut merupakan bentuk nyata dari perpektif pesimis dari pola interaksi di dalam lingkup terkecil yakni keluarga yang sangat nyata. Berbeda dengan perspektif optimis yang melihat kemajuan teknologi sebagai cara untuk berkomunikasi dengan saudara atau orang-orang yang sudah lama tidak berjumpa. Contohnya melalui facebook, whatsapp, skype, bbm, dsb.

 

Contoh dari perspektif optimis adalah ketika membentuk sebuah grup reuni, di dalam grup tersebut digunakan sebagai ajang untuk bersilaturahmi, bercerita mengenai masa lalu, membangun kembali komunikasi yang dahulu sempat hilang. Bahkan dengan adanya akses internet ini dipandang pula sebagai jalan untuk melakukan komunikasi lebih lanjut yakni komunikasi secara face to face dan membentuk komunitas organik. Seperti yang kita ketahui, komunitas organik adalah komunitas yang bertemu secara langsung.
Kemajuan teknologi apalagi dengan adanya new media yang sudah dapat dipastikan sangat dekat dengan kehidupan kita, keberadaannya sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Oleh karena itu sebagai makhluk yang berakal, kita harus bisa menyikapi dan menggunakan apa yang ada ini, dengan sebijak mungkin. Bukan berarti kita menolak masuknya sebuah kemajuan peradaban. 


Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ICTs. Sage Publication Ltd. London.
 https://avemariaradio.net/wp-content/uploads/2015/06/Family.jpg


Jumat, 18 Maret 2016

New Media, Cara Baru Berkomunikasi


Perkembangan zaman semakin membuat manusia semangat dalam menemukan berbagai inovasi-inovasi. Terlebih pada evolusi teknologi khususnya dalam bidang komunikasi dan informasi. Teknologi komunikasi diartikan sebagai perlengkapan hardware, struktur organisasi, dan nilai-nilai sosial dimana individu-individu mengumpulkan, memproses dan tukar-menukar informasi dengan individu-individu lain (Everett M. Rogers). Yang artinya bahwa perkembangan ini mencakup beberapa aspek kehidupan manusia, seperti struktur organisasi, nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat.

Evolusi komunikasi ini sudah terjadi sejak lama, yang menurut Rogers di bagi kedalam empat era, yakni pertama writing. Writing ini dimana manusia menceritakan seluruh yang mereka alami melalui tulisan sebagai cara untuk berkomunikasi. Kedua adalah printing, dimana kala itu perkembangannya bermula ketika ditemukannya mesin cetak pertama kali oleh Guttenberg. Ketiga adalah Telecomunication, dan yang terakhir adalah Interactive Communication. Seperti yang saat ini sedang kita jalani adalah termasuk kedalam Interactive Communication Era. Era dimana manusia sudah bisa berkomunikasi ataupun menerima informasi dengan mudahnya.
 
(Ilustrasi evolusi komunikasi)

Di Indonesia sendiri dan mungkin terjadi juga di negara lain yang saat ini sedang berkembang pesat adalah pada media sosial. Seperti beberapa tahun belakangan ini, sudah banyak sekali fitur yang semakin mempermudah manusia dalam berkomunikasi. Seperti Line, Whatsapp, Skype, dan lain sebagainya. Fitur-fitur itu termasuk kedalam new media . Lantas apa yang dimaksud new media sebenarnya?

Yapp.. new media adalah fenomena konstruksi sosial namun sering kali menyimpang dari maksud perancang aslinya. Kenapa sih? Semua perkembangan teknologi pada dasarnya diciptakan baik, tidak ada yang buruk, namun terkadang orang-orang yang salah menggunakan, ataupun kebablasan dalam menggunakan perkembangan tersebut.

Karakteristik dari new media itu sendiri menurut McQuail, antar lain melibatkan diri dalam desentralisasi saluran-saluran untuk mendistribusikan pesan-pesan, kenaikan dalam kapasitas untuk transfer pesan pada satelit, jaringan kabel dan komputer, kenaikan pilihan yang dapat digunakan audiens untuk menjadi terlibat dalam proses komunikasi yang interaktif. Masyarakat bisa menentukan bentuk dan konten media baru ini, mereka bisa menggunakan media baru ini sesuai dengan yang mereka inginkan.

Perkembangan teknologi khususnya komunikasi diciptakan pada dasarnya dengan tujuan mempermudah akses komunikasi antar orang perorangan. Dahulu orang berkomunikasi dengan orang yang jauh di benua lain atau di daerah lain harus menunggu selama berbulan-bulan bahkan tahunan karena terbatas jarak. Saat ini, proses komunikasi jauh lebih mudah dilakukan oleh siapapun dan dimanapun, sehingga memunculkan istilah global village dimana orang berkomunikasi dengan orang yang berada juah jaraknya dengan kita, seolah-olah berada dekat dengan kita, dan membentuk global society.

Setiap kemajuan yang ada dimasyarakat adalah berkat adanya keterbukaan di dalam masyarakat. Namun belum tentu setiap perkembangan membawa dampak baik bagi masyarakat, karena belum tentu sesuai dengan budaya yang ada di daerah setempat. Sehingga dalam menghadapi sebuah perubahan maupun hal-hal yang baru perlu adanya kebijaksanaan dalam menggunakannya. Salah-salah kemajuan yang dianggap orang banyak malah justru membawa kemunduran bagi suatu bangsa.

Mengingat akan dampak yang ditimbulkan, terdapat dua dampak yang ditimbulkan dengan adanya new media ini, yakni dampak positif dan negatif. Dari aspek positif, media berusaha untuk memperpendek jarak, dengan kata lain media bisa menghubungkan mereka yang saling berjauhan menjadi seakan lebih dekat. Selain itu, dengan kemudahan akses informasi media telah mampu mengedukasi masyarakat dengan jangkauan yang lebih luas, masyarakat semakin mawas diri dan peka terhadap isu-isu yang berkembang di lingkungannya sehingga bisa tanggap dan lebih aktif dalam permasalahan seperti politik maupun ekonomi. Sedangkan aspek negatif bagi masyarakat akibat adanya new media meliputi : pemanfaatan media sebagai alat propaganda politik, televisi dan film diyakini sangat berpotensi untuk merusak tatanan masyarakat, mengubah pola pikir generasi muda dan menistakan budaya warisan.

Masih belum puas dengan itu semua? nah.. ada lagi yang lebih menarik, berbagai perkembangan fitur ini telah membentuk virtual community. What’s that?
 
Virtual community ini adalah kumpulan orang-orang, dalam "ruang" online di mana mereka datang, berkomunikasi, menghubungkan, dan mengenal satu sama lain lebih baik dari waktu ke. Sehingga pola komunikasi yang ada tidak perlu bertatap muka, cukup melalui media. Ini semua tercipta karena adanya kesamaan minat. Sama seperti kehidupan nyata, virtual Community ini juga memiliki aturan-aturan tersendiri yang disepakati bersama. Ketika sudah bersama maka ia akan lupa akan dirinya yang sebenarnya. Misalnya membentuk sebuah grup di dalam media sosial.

Terbentuknya komunitas ini pada dasarnya dibuat dengan tujuan yang baik, misalnya untuk lebih mempermudah. Namun ada pula kelemahannya yakni tidak bisa bertemu secara langsung, sehingga seperti apa ketika sedang berkomunikasi tidak bisa jelas terlihat. Parahnya adalah dapat membuat orang menjadi memiliki “identitas lain”. Orang didalamnya cenderung untuk bertingkah laku seperti yang diharapkan atau bahkan seperti apa yang ia bayangkan yang menurutnya baik. Sampai-sampai ia lupa bagaimana identitas dirinya yang sebenarnya.

Sebelum adanya komunitas virtual, orang-orang berkumpul dan berkomunikasi dalam komunitas organis. Mereka bertemu secara langsung atau face-to-face, sehingga apa yang ditampilkan bisa jelas, tidak hanya sekedar kata-kata namun juga dapat melihat komunikasi non-verbal yang ditampilkan oleh orang yang sedang berbicara. Berbeda dengan saat ini, terkadang orang berdiskusi sudah tidak perlu bertemu secara langsung, cukup membuat grup, kemudian berdiskusilah di dalam grup media yang dibuatnya.  Terdapat perbedaan antara komunitas virtual dengan komunitas organik menurut  Van Dijk. mengelompokkan hal tersebut menjadi empat perbedaan yakni berdasar sosial organisasi, komposisi , bahasa, dan kultur. Dari segi sosial, komunitas organik lebih sering bertemu di satu tempat sedangkan komunitas virtual jarang sekali bertemu di dunia nyata melainkan hanya bercakap dan berinteraksi dengan media internet. Berdasarkan komposisi anggotanya, komunitas organik rata-rata memiliki umur yang relatif sama antara satu anggota dengan yang lain sedangkan komunitas virtual lebih beragam tingkat umur anggotanya. Berbedalagi, dari segi bahasa , komunitas organik menggunkan bahasa verbal dan non verbal sama seperti komunitas virtual namun pada komunitas virtual bahasa yang digunakan lebih beragam. Dari segi kultur budaya, biasanya komunitas organik punya kesamaan budaya dalam organisasi mereka sedangkan komunitas virtual heterogen karena mereka punya budaya yang amat kaya dan beragam.

Berbagai inovasi perkembangan teknologi sudah sangat beragam dan semakin mempermudah kegiatan manusia, alangkah baiknya jika kita sebagai konsumen dari new media  dapat lebih bijaksana dan berhati-hati dalam menggunakan new media tersebut.

Daftar Pustaka

Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ICTs. Sage Publication Ltd. London.
http://www.fullcirc.com/community/communitywhatwhy.htm