Jumat, 18 Maret 2016

19.46

Perkembangan zaman semakin membuat manusia semangat dalam menemukan berbagai inovasi-inovasi. Terlebih pada evolusi teknologi khususnya dalam bidang komunikasi dan informasi. Teknologi komunikasi diartikan sebagai perlengkapan hardware, struktur organisasi, dan nilai-nilai sosial dimana individu-individu mengumpulkan, memproses dan tukar-menukar informasi dengan individu-individu lain (Everett M. Rogers). Yang artinya bahwa perkembangan ini mencakup beberapa aspek kehidupan manusia, seperti struktur organisasi, nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat.

Evolusi komunikasi ini sudah terjadi sejak lama, yang menurut Rogers di bagi kedalam empat era, yakni pertama writing. Writing ini dimana manusia menceritakan seluruh yang mereka alami melalui tulisan sebagai cara untuk berkomunikasi. Kedua adalah printing, dimana kala itu perkembangannya bermula ketika ditemukannya mesin cetak pertama kali oleh Guttenberg. Ketiga adalah Telecomunication, dan yang terakhir adalah Interactive Communication. Seperti yang saat ini sedang kita jalani adalah termasuk kedalam Interactive Communication Era. Era dimana manusia sudah bisa berkomunikasi ataupun menerima informasi dengan mudahnya.
 
(Ilustrasi evolusi komunikasi)

Di Indonesia sendiri dan mungkin terjadi juga di negara lain yang saat ini sedang berkembang pesat adalah pada media sosial. Seperti beberapa tahun belakangan ini, sudah banyak sekali fitur yang semakin mempermudah manusia dalam berkomunikasi. Seperti Line, Whatsapp, Skype, dan lain sebagainya. Fitur-fitur itu termasuk kedalam new media . Lantas apa yang dimaksud new media sebenarnya?

Yapp.. new media adalah fenomena konstruksi sosial namun sering kali menyimpang dari maksud perancang aslinya. Kenapa sih? Semua perkembangan teknologi pada dasarnya diciptakan baik, tidak ada yang buruk, namun terkadang orang-orang yang salah menggunakan, ataupun kebablasan dalam menggunakan perkembangan tersebut.

Karakteristik dari new media itu sendiri menurut McQuail, antar lain melibatkan diri dalam desentralisasi saluran-saluran untuk mendistribusikan pesan-pesan, kenaikan dalam kapasitas untuk transfer pesan pada satelit, jaringan kabel dan komputer, kenaikan pilihan yang dapat digunakan audiens untuk menjadi terlibat dalam proses komunikasi yang interaktif. Masyarakat bisa menentukan bentuk dan konten media baru ini, mereka bisa menggunakan media baru ini sesuai dengan yang mereka inginkan.

Perkembangan teknologi khususnya komunikasi diciptakan pada dasarnya dengan tujuan mempermudah akses komunikasi antar orang perorangan. Dahulu orang berkomunikasi dengan orang yang jauh di benua lain atau di daerah lain harus menunggu selama berbulan-bulan bahkan tahunan karena terbatas jarak. Saat ini, proses komunikasi jauh lebih mudah dilakukan oleh siapapun dan dimanapun, sehingga memunculkan istilah global village dimana orang berkomunikasi dengan orang yang berada juah jaraknya dengan kita, seolah-olah berada dekat dengan kita, dan membentuk global society.

Setiap kemajuan yang ada dimasyarakat adalah berkat adanya keterbukaan di dalam masyarakat. Namun belum tentu setiap perkembangan membawa dampak baik bagi masyarakat, karena belum tentu sesuai dengan budaya yang ada di daerah setempat. Sehingga dalam menghadapi sebuah perubahan maupun hal-hal yang baru perlu adanya kebijaksanaan dalam menggunakannya. Salah-salah kemajuan yang dianggap orang banyak malah justru membawa kemunduran bagi suatu bangsa.

Mengingat akan dampak yang ditimbulkan, terdapat dua dampak yang ditimbulkan dengan adanya new media ini, yakni dampak positif dan negatif. Dari aspek positif, media berusaha untuk memperpendek jarak, dengan kata lain media bisa menghubungkan mereka yang saling berjauhan menjadi seakan lebih dekat. Selain itu, dengan kemudahan akses informasi media telah mampu mengedukasi masyarakat dengan jangkauan yang lebih luas, masyarakat semakin mawas diri dan peka terhadap isu-isu yang berkembang di lingkungannya sehingga bisa tanggap dan lebih aktif dalam permasalahan seperti politik maupun ekonomi. Sedangkan aspek negatif bagi masyarakat akibat adanya new media meliputi : pemanfaatan media sebagai alat propaganda politik, televisi dan film diyakini sangat berpotensi untuk merusak tatanan masyarakat, mengubah pola pikir generasi muda dan menistakan budaya warisan.

Masih belum puas dengan itu semua? nah.. ada lagi yang lebih menarik, berbagai perkembangan fitur ini telah membentuk virtual community. What’s that?
 
Virtual community ini adalah kumpulan orang-orang, dalam "ruang" online di mana mereka datang, berkomunikasi, menghubungkan, dan mengenal satu sama lain lebih baik dari waktu ke. Sehingga pola komunikasi yang ada tidak perlu bertatap muka, cukup melalui media. Ini semua tercipta karena adanya kesamaan minat. Sama seperti kehidupan nyata, virtual Community ini juga memiliki aturan-aturan tersendiri yang disepakati bersama. Ketika sudah bersama maka ia akan lupa akan dirinya yang sebenarnya. Misalnya membentuk sebuah grup di dalam media sosial.

Terbentuknya komunitas ini pada dasarnya dibuat dengan tujuan yang baik, misalnya untuk lebih mempermudah. Namun ada pula kelemahannya yakni tidak bisa bertemu secara langsung, sehingga seperti apa ketika sedang berkomunikasi tidak bisa jelas terlihat. Parahnya adalah dapat membuat orang menjadi memiliki “identitas lain”. Orang didalamnya cenderung untuk bertingkah laku seperti yang diharapkan atau bahkan seperti apa yang ia bayangkan yang menurutnya baik. Sampai-sampai ia lupa bagaimana identitas dirinya yang sebenarnya.

Sebelum adanya komunitas virtual, orang-orang berkumpul dan berkomunikasi dalam komunitas organis. Mereka bertemu secara langsung atau face-to-face, sehingga apa yang ditampilkan bisa jelas, tidak hanya sekedar kata-kata namun juga dapat melihat komunikasi non-verbal yang ditampilkan oleh orang yang sedang berbicara. Berbeda dengan saat ini, terkadang orang berdiskusi sudah tidak perlu bertemu secara langsung, cukup membuat grup, kemudian berdiskusilah di dalam grup media yang dibuatnya.  Terdapat perbedaan antara komunitas virtual dengan komunitas organik menurut  Van Dijk. mengelompokkan hal tersebut menjadi empat perbedaan yakni berdasar sosial organisasi, komposisi , bahasa, dan kultur. Dari segi sosial, komunitas organik lebih sering bertemu di satu tempat sedangkan komunitas virtual jarang sekali bertemu di dunia nyata melainkan hanya bercakap dan berinteraksi dengan media internet. Berdasarkan komposisi anggotanya, komunitas organik rata-rata memiliki umur yang relatif sama antara satu anggota dengan yang lain sedangkan komunitas virtual lebih beragam tingkat umur anggotanya. Berbedalagi, dari segi bahasa , komunitas organik menggunkan bahasa verbal dan non verbal sama seperti komunitas virtual namun pada komunitas virtual bahasa yang digunakan lebih beragam. Dari segi kultur budaya, biasanya komunitas organik punya kesamaan budaya dalam organisasi mereka sedangkan komunitas virtual heterogen karena mereka punya budaya yang amat kaya dan beragam.

Berbagai inovasi perkembangan teknologi sudah sangat beragam dan semakin mempermudah kegiatan manusia, alangkah baiknya jika kita sebagai konsumen dari new media  dapat lebih bijaksana dan berhati-hati dalam menggunakan new media tersebut.

Daftar Pustaka

Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ICTs. Sage Publication Ltd. London.
http://www.fullcirc.com/community/communitywhatwhy.htm

0 komentar:

Posting Komentar